Rabu, 27 April 2016

Kritik Sastra Novel "Belenggu"



BAB I
PENDAHULUAN

Sebagaimana kehidupan, karya sastra juga bersifat multidimensional. Di dalamnya terdapat berbagai dimensi atau aspek-aspek tertentu, misalnya berkenaan dengan persoalan estetika, moralitas, psikologi, masyarakat, dan lain-lain. Karena tidak bisa melepaskan diri dari cara pandang yang parsial, maka mengkritik karya sastra juga harus memfokuskan perhatian hanya pada aspek-aspek tertentu. Oleh karena itu, muncul berbagai macam pendekatan dalam kritik sastra, salah satunya adalah pendekatan feminisme.
Pendekatan feminisme dalam kajian sastra sering dikenal dengan nama kritik sastra feminis. Kritik sastra feminis merupakan salah satu kajian karya sastra yang bertolak pada pandangan feminisme yang menginginkann adanya keadilan dalam memandang eksistensi perempuan, baik sebagai penulis maupun karya sastra-karya sastranya. Dalam perkembangannya, terdapat beberapa ragam kritik sastra feminis, yaitu kritik sastra feminis ideologis, kritik sastra feminis ginokritik, kritik sastra feminis Marxis, kritik sastra feminis psikoanalitik, kritik sastra feminis lesbian (radikal), dan kritik sastra feminis ras/etnik.
Dalam hal ini, ragam pendekatan feminisme yang digunakan sebagai dasar pedoman pembuatan kritik sastra novel Belenggu adalah kritik sastra feminis Marxis. Kritik sastra feminis Marxis meneliti tokoh-tokoh wanita dari sudut pandang sosialis, yaitu kelas-kelas masyarakat. Secara terfokus, tokoh wanita yang dibahas dalam novel tersebut adalah Siti Rohayah atau Yah. Pada kajian ini, penulis mencoba mengungkapkan bahwa kaum wanita merupakan kelas masyarakat yang tertindas.













BAB II
PEMBAHASAN
Potret Wanita Simpanan dalam Novel Belenggu

Sekilas Cerita
Novel Belenggu mengisahkan hubungan rumah tangga antara Sukartono (Tono) dan Sukartini (Tini) yang tidak harmonis. Kemudian, muncul tokoh Siti Rohayah (Yah) yang nantinya akan menjadi wanita simpanan Tono. Di lihat dari sisi tokoh wanita simpanan dalam novel, Belenggu membeberkan kehidupan wanita penghibur yang terobsesi dengan suami yang berderajat dan berpenghasilan tinggi. Hal itu menimbulkankan asumsi bahwa siapa pun yang berkeluarga dengan seorang dokter maka hidupnya akan terjamin secara materiil maupun nonmateriil. Oleh karena itu, dia jatuh cinta pada teman laki-lakinya sewaktu dia kecil yang sudah beristri, Tono. Dia menjadi wanita kedua dalam kehidupan laki-laki yang tidak merasa bahagia karena istrinya sibuk dengan karir yang digelutinya.
Dokter Sukartono (Tono) merupakan seorang dokter terkenal yang memiliki karir yang cemerlang. Akan tetapi, kecemerlangan karirnya ini tidak didukung dengan kebahagiaan rumah tangganya. Dia memiliki istri yang cantik dan pintar, tetapi sibuk dengan dunianya sehingga tidak ada waktu untuk saling berbagi perhatian dengannya. Perasaan kehilangan istrinya itulah yang membuatnya menjadi dekat dengan Siti Rohayah (Yah), salah seorang pasiennya yang berprofesi sebagai wanita penghibur. Bersama dengan Rohayah, dia merasakan menjadi laki-laki yang dimanja dan senantiasa diperhatikan serta dilayani kapanpun dia membutuhkannya.
Meskipun demikian, percintaan antara Tono dan Yah akhirnya harus berhenti karena mereka tidak menemukan cinta yang sebenarnya. Yah melepaskan Tono seiring dia melepas obsesinya memiliki suami seorang dokter. Begitu juga dengan Tono, dia membuang keegoisaannya untuk memiliki istri yang mau melayaninya.

Potret Rohayah sebagai Wanita Simpanan Dokter Sukartono
1.     Gambaran Fisik 
Secara fisik, sosok Rohayah digambarkan sebagai seorang perempuan dengan bentuk tubuh yang indah dan cantik.
...:”Ya…., “ sebentar lagi, kedengaran orang turun dari tempat tidur. Lalu suara sandal terseret menghampiri pintu, maka Sukartono berhadapan dengan perempuan montok berpakaian kimono, yang ditutupkannya dengan tangan kirinya.
(Belenggu,1995: 20)
2.     Latar sosial
Rohayah merupakan wanita penghibur yang hidup dari pelukan laki-laki yang satu ke pelukan laki-laki yang lain.
Jangan kautinggalkan, sudah lama aku mimpikan…..,
Kita akan bersua kembali,” suaranya terhenti,
“Kita akan bersua kembali? Dimanakah kita bersua dahulu?” Yah tersenyum: Dalam mimpiku, dalam angan-anganku, sudah kugambarkan pertemuan yang begini. Percayalah, Tono, aku cinta.”
Dipeluk oleh Sukartono tubuh Yah, katanya:”Tetapi sejak ini, jangan ada orang lain lagi.”
“Memang sejak engkau kukenal tidak ada tamuku lagi. Karena itulah aku pindah ke sini, biar kita jangan diganggu. Tiadalah engkau kesal, aku cuma perempuan…
(Belenggu,1995: 38)
3.     Pandangan Hidup
Sebagai seorang wanita penghibur, pandangan hidup Rohayah hanya untuk mencari kesenangan semata (terutama dalam hal kelimpahan materi). Ini terlihat ketika dia merasa dicampakkan Tono karena Tono lebih memilih istrinya daripada dirinya.
Malamnya Tono bertemu lagi dengan Yah, lalu dikabarkannya tentang maksud Tini itu, tentang dia menahannya, jangan dulu terus memutuskan perhubungan. Mula-mulanya Yah merasa tidak senang. Tono cinta juga rupanya akan istrinya, dia sama sekali tidak ingat nasib Yah. Perasaan dia yang mesti tinggal, tapi istri Tono. Kalau dia sudah pergi, Tono akan melupakan dia, suami istri akan berbaik lagi. Ah, dia cuma perempuan sambilan saja, perintang-rintang waktu. Dari cerita Tono dia tahu, rupanya istrinya tiada bercerita tentang pertemuan mereka tadi pagi”
(Belenggu,1995: 140)

Karena merasa dikhianati, dia akhirnya meninggalkan cintanya pada Tono dan kembali pada dunianya sebagai wanita penghibur.
Di dalam kamar mulai gelap.
Tono melihat ke atas, tidak ada bola lampu lagi. Tentu listrik juga sudah dimatikan. Akan demikian jugakah dalam hatinya dalam pikirannya? Ah ,ya, kalau ada bolanya lagi, kalau ada stroomnya… tentu… pikirannya itu tiada terus… diputarnya lagi slinger gramofoon, dibaliknya plaatnya.
Selamat tinggal, selamat tinggal.
….Suara Yah riang gembira,…
Jauh di mata di hati bukan, Kasih hati tidak tinggal Selalu saja menggetarkan badan.
(Belenggu,1995: 146)

4.     Hubungan dengan Lawan Jenis
Sebagaimana halnya wanita penghibur, maka Rohayah lebih agresif dan berinisiatif lebih dulu dalam menjalin hubungan dengan laki-laki. Oleh karena itu, dalam cerita novel ini Rohayah yang mulai menggoda Tono.
Kemudian disuruhnya baring hendak memeriksa perut.
“Buang air bagaimana?”
“Baik saja, tuan dokter.”
Ketika tangannya hendak ditaruhnya ke atas perut si sakit itu, tangan kiri si sakit yang selama ini menutupkan kimononya, menyingkapkan kimono itu. Tangan Sukartono terhenti di awang-awang, tersirap dadanya sebentar, semata-mata karena terkejut, bukan karena hawa nafsu.
(Belenggu,1995: 21)

 Dengan terus terang, dia minta Tono untuk menemuinya di rumahnya.
“Nanti sukakah tuan dokter datanglagi ke rumah saya?”
Dia harus diberi kadarnya.
“Ya, tentu.”
“Oh, dokter,” nyonya Eni berdiri,”maaf saya terlalu lama menahan tuan. Ada lagi orang sakit lain.” “Tidak mengapa, tiada lagi…
(Belenggu,1995: 28)

 “Perempuan aneh, tapi sebenarnya perempuan. Tini…” Kartono mengeluh. Nyonya Eni perempuan sejati.
(Belenggu,1995: 31)

Tanpa segan-segan dia memberikan alamat.
Tuan dokter.
Saya sudah pindah ke Gang Baru No. 24. Kalau tuan dokter kebetulalintas di sana, sukalah mampir di rumah saya, bekas pasien tuan dokter Nyonya Eni.
(Belenggu,1995: 32)

Dengan penuh pengalaman melayani laki-laki yang biasanya tidak mungkin dilakukan wanita terhormat. Seperti membukakan baju juga sepatu. “Dokter, tiadakah panas hari ini? Bolehkah saya tanggalkan baju tuan dokter?” Dia tiada menunggu jawab Sukartono dengan segera ditanggalkannya. Sesudah disangkutkannya baju itu dia kembali, lalu berlutut di hadapan Sukartono, terus ditanggalkannya sepatunya, dipasangkannya sandal yang diambilnya dari bawah kursi Sukartono.
(Belenggu,1995: 33)

Dengan keahliannya merajuk, dia berpura-pura menderita. Akhirnya, Rohayah mampu menggiring Tono dalam pelukannya.
“Alangkah bodohnya engkau. Sangkamu aku baru bercerai sangkamuaku sakit karena terlalu banyak pikiran memikirkan suamiku…” Yah tertawa,tertawa tapi mengandung sedih. “Mula-mulanya aku tiada mengerti maksud katamu tentang, „banyak pikiran‟, kemudian aku mengerti, sangkamu akubaru bercerai. Aku pura-purakan aku benar demikian, lalu….. ”
“Aku masuk jaringmu,” senyum Kartono.
(Belenggu,1995: 37)

Pernah Tono bertanya:”Yah, aku heran, dari mana engkau mendapat pikiran yang dalam-dalam.” Yah tersenyum mencemoohkan: ”Tono, engkau heran? Mengapa perempuan seperti aku mempunyai pikiran yang sedalam-dalam itu?…. Dari orang laki-laki yang sebanyak itu pernah di sampingku.” Ucapan yang demikian acapkali terbit dari bibir Yah, dengan sindir yang tajam, menandakan pengalaman yang sedih-sedih yang sudah dideritanya.
(Belenggu,1995: 39)

Rohayah mengetahui dengan jelas cara untuk menghibur laki-laki yang sedang bersedih.
Tono, engkau bimbang. Zaman dahulu kau ketahui juga. Tono, tidak semua zaman dahulu merusuhkan hati, tidak semua tiada baik diingat, tapi ada jua yang seolah-olah bintang pagibersinar-sinar dalam hati.
(Belenggu,1995: 39)

Yah hening, memandang dengan sedih. Dia merasa sedih, melihat Tono demikian, terasa-rasa padanya. Tono serusuh itu bukan semata-mata karena anak itu mati; satu patah kata yang diucapkan oleh Tono tingga tergantung dalam perhatinannya: kehilangan. Yah tersenyum, kata itu menerbitkan gambar di dalma jiwanya. Kata itu berulang dalam pikirannya, seolah-olah kunci berputar hendak membuka pintu masuk ke dalam kamar tempat menyimpan pengalamannya. Kehilangan? Dia merasa apa artinya kata itu. Kehilangan pengharapan, kehilangan cita-cita, kehilangan kepercayaan pada kebenarannya manusia.
…Tono barang apa saja tiada lama, tiada untuk selama-selamanya, apakah perlunya kita bersedih hati akan apa yang sudah hilang?”
Kata Yah sejuk lembut, masuk dalam hati Kartono, sebagai air seteguk menghilangkan haus, tetapi hausnya belum juga hilang sama sekali. Kerongkongan jiwanya sudah tiada serasa terkunci lagi. Dukanya matanya, jangan surut lagi ke hal yang tadi. Katanya dengan riang gembira.
(Belenggu,1995: 75)

Dengan mudahnya dan tanpa ditutup-tutupi, Rohayah mengungkapkan perasaan cintanya dengan menyatakan perasaan cemburu kepada Tini.
Suara Yah lain daripada biasa,seolah-olah menerangkan: ”sudahlah apa boleh buat,” katanya: ”Aku cemburu Tono, aku cemburu. Kalau kau lihat dia nanti,… kau sudah lama suka akan suaranya nanti suka juga akan orangnya. Kau bandingkan aku dengan dia nanti, … ah, apakah si Yah.”
Yang tiada memberi kesempatan kepada Tono memotong bicaranya, katanya dengan lancar:”Apakah si Yah, Siti Hayati kata orang cantik molek, tiada salahnya dengan suaranya.”
“Apa perlunya cemburu… jadi aku tolak saja permintaan…”
“Entahlah Tono.”
“Sekali ini engkau bimbang, Yah belum pernah.”
“Tono,” kata Yah pelahan-lahan,”mengapakah engkau suka dengan suara Siti Hayati? Mengapa engkau selalu terharu? Bukan, itu lagi saja, apalah yang mesti diharukan.”
(Belenggu,1995: 96)

5.     Pandangan Masyarakat Terhadapnya
Pandangan Tono tentang sosok Rohayah sebagai perempuan sejati.
“Perempuan aneh, tapi sebenarnya perempuan. Tini…” Kartono mengeluh. Nyonya Eni perempuan sejati.
(Belenggu,1995: 31)

Lagu dimulai. Sebentar kemudian Siti Hayati menyanyi. Tono mengejapkan matanya. Suaranya agak lain dari radio, di plaat gramofoon, persis suara Yah, suara Yah pada malam itu, dia menyanyi. Dibukany amatanya, Yah menyanyi dengan sepenuh hatinya. (117)
(Belenggu,1995: 117)

Pendapat Tono itu didasarkan pada pendapat seorang laki-laki tua yang menganggap perempuan sejati adalah perempuan yang menyatakan kasihnya dengan mau menanggalkan sepatu suaminya.
Tenang dan damai rasa hati dokter Sukartono disambut oleh orang tua itu. Sehabis memeriksa orang sakit, dokter Sukartono biasa duduk sebentarbercakap-cakap. Tetapi di rumah orangtua itu duduk sebentar, bukan sajakarena hendak menyenangkan hatikeluarga serumah, melainkan karenasenang duduk berdekatan dengan orangtua itu, mendengar cakapnya.
Apa katanya tadi? Tentang perempuan sekarang? Perempuan sekarang hendak samahaknya dengan kaum laki-laki. Apa yang hendak disamakan. Hak perempuan ialah mengurus anak suaminya, mengurus rumah tangga. Perempuan sekarang cuma meminta hak saja pandai. Kalau suaminya pulang dari kerja, benar dia suka menyambutnya, tetapi ia lupa mengajak suaminya duduk, biar ditanggalkannya sepatunya. Tak tahukah perempuan sekarang kalau dia bersimpuh di hadapan suaminya akan menanggalkan sepatunya, buakankah itu tanda kasih, tanda setia? Apalagi hak perempuan, lain dari memberi hati pada laki-laki?
(Belenggu,1995: 17)
Akan tetapi, setelah dia sadar dia menganggap Rohayah sama saja dengan wanita penghibur lainnya yang tidak memiliki kehormatan sebagaimana dinyatakan Tono.
“… Yah engkau bukan, nyonya Eni engkau bukan, siapakah engkau? Engkau permain-mainkan aku, memang aku bodoh.Engkau pura-pura cinta padaku, tapi di belakangku, engkau menertawai aku, sedang engkau dipeluk orang lain.”
 (Belenggu,1995: 121)

…Tono menghampirinya. Jarinya menunjuk muka Yah. Katanya dengan keras: ”sifatmu tidak dapat berubah, kerbau suka juga kepada kubangan. Dalam lumpur tempatmu, kembalilah engkau ke sana.”
(Belenggu,1995: 121)

Pandangan istri Tono, Sumartini (Tini), Rohayah bukan sembarang wanita penghibur yang tidak berpendidikan. Dia memiliki pendirian yang tidak mau dihinakan begitu saja.
Tadinya dalam angan-angan Tini dia akan berjumpa dengan perempuan biasa, perempuan yang dapat dikalahkannya dengan semangat saja, semangatnya sebagai perempuan yang perempuan yang berpelajaran, perempuan di tingkatan baik-baik. Tidak disangka-sangka dia berhadapan dengan perempuan… yang di luar angan-angannya. Nafsunya hendak tahu terbit.
(Belenggu,1995: 131)

Baru-baru ini kami bertemu lagi, kebetulan saja. Jangan marah nyonya, dia tiada akan terpikat (Yah tersenyum, senyum manis yang berarti) ke dalam jaringku, kalau jaring nyonya baik.”(132)
(Belenggu,1995: 132)

6.     Konflik yang Dihadapi
Cita-cita Rohayah adalah menikah dengan seorang dokter. Dokter adalah profesi yang dianggap terhormat sejak dulu sampai sekarang. Derajat dan penghasilan yang tinggi menimbulkankan asumsi bahwa siapa pun yang berkeluarga dengan seorang dokter maka hidupnya akan terjamin secara materiil maupun nonmateriil. Akan tetapi, obsesinya sempat terhambat oleh nasib buruk yang melingkupi hidupnya hingga dia terjerat dalam dunia seks komersial, yang menjadikan hidupnya begitu suram.
Rohayah mengetahui bahwa Tono telah menjadi seorang dokter, dia pun mulai mengejar lagi obsesi itu. Akan tetapi, setelah berhasil mendapatkan Tono, Rohayah menyadari bahwa Tono tidak pantas dijadikan sebagai bahan pelampiasan obsesi yang selama ini telah membelenggu hidupnya. Dia merasa tidak pantas berada di sisi Tono, laki-laki yang dianggap sangat baik olehnya.
Yah tersenyum: “bukan, keadaanmu dirumah satu lagi” ketika Sukartono terdiam, dilirik Yah air mukanya, dengan penuh pengharapan.
(Belenggu,1995: 36)

Keegoisan hati dan angan-angan inilah yang telah membelenggu jiwa tokoh Rohayah dalam novel ini, namun akhirnya dia dapat melepaskan diri dari belenggu itu. Rohayah memutuskan untuk melepaskan Tono. Dia telah memenuhi obsesinya untuk hidup dengan seorang dokter, namun nuraninya mengatakan bahwa kebahagiaan yang dia rasakan adalah kebahagiaan semu, karena itu dia memutuskan untuk pergi ke Nieuw Caledonie. Setelah perpisahan itu juga telah menemukan dunia baru, terbebas dari belenggu yang selama dia rasakan. Kesimpulan ini didapat dalam kalimat:
”..Yah tersenyum, sambil menangis... dia merasa belenggu dahulu, waktu belum ketemu Tono, terkunci lagi, tetapi belenggu itu terasa ringan, menerbitkan perasaan gembira yang tidak terhingga...”. 
(Belenggu,1995: 149)

Potret Wanita Simpanan dalam Novel
Pada intinya, wanita simpanan dalam novel tersebut menggambarkan sosok wanita yang rapuh yang tidak dapat menghadaipi hidup dengan jelas dalam suatu norma yang dianutnya. Wanita simpanan tersebut bukan dari kalangan terpelajar. Pendidikannya tidak terlalu tinggi, sehingga ketika ada masalah mereka tidak berdaya dan minta perlindungan pada orang yang kuat dalam hal ini laki-laki. Perasaan cinta mereka diungkapkan tidak begitu tulus karena lebih banyak diiming-imingi harta yang melimpah. Buktinya adalah tokoh Rohayah meninggalkan Dokter Sukartono karena Tono tidak tulus mencintainya.
Berdasarkan isi cerita, tokoh Rohayah menjadi wanita simpanan ketika dia sudah tidak perawan lagi. Dia menjadi wanita simpanan karena silau dengan harta dan kedudukan. Dia tidak menyadari sama sekali betapa negatifnya pandangan masyarakat terhadap perilaku mereka, karena dia terlena dengan kemakmuran yang dimilikinya sekalipun dia tidak sepenuhya merasa bahagia.
Secara garis besar, novel Belenggu menampilkan wanita simpanan sebagai sosok wanita yang berpengalaman dalam bercinta sehingga dengan mudah dia dapat memperoleh laki-laki yang dia sukai. Rohayah dibesarkan dalam dunia hiburan sehingga kesenangan adalah tujuan hidupnya. Dengan mudah, dia mendapat laki-laki pilihannya dengan menjadi perempuan yang bisa melayani laki-laki yang biasanya jarang dilakukan oleh wanita lainnya, sehingga laki-laki merasa dikagumi dan lupa akan dirinya.




BAB III
PENUTUP

Berdasarkan kritik sastra feminis Marxis, tokoh Siti Rohayah atau Yah dalam novel Belenggu digambarkan sebagai seorang wanita simpanan. Dia adalah sosok wanita yang rapuh yang tidak dapat menghadaipi hidup dengan jelas dalam suatu norma yang dianutnya. Wanita simpanan tersebut bukan dari kalangan terpelajar. Pendidikannya tidak terlalu tinggi, sehingga ketika ada masalah mereka tidak berdaya dan minta perlindungan pada orang yang kuat dalam hal ini laki-laki. Perasaan cinta mereka diungkapkan tidak begitu tulus karena lebih banyak diiming-imingi harta yang melimpah. Buktinya adalah tokoh Rohayah meninggalkan Dokter Sukartono karena Tono tidak tulus mencintainya.
























Daftar Pustaka

Pane. Armijn. 1995. Belenggu. Jakarta: Dian Rakyat.
Wiyatmi. 2008. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar